Setelah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Edhy Prabowo menyatakan mundur dari beberapa jabatannya yang diembannya. Jabatan tersebut antara lain, sebagai Wakil Ketua Umum di Partai Gerindra dan sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan RI. 

Penyataan tersebut disampaikan Edhy Prabowo sesaat setelah ditetapkan sebagai tersangka penerima suap ekspor benih lobster.

"Saya juga mohon maaf ke keluarga besar partai saya. Dengan ini saya akan mengundurkan diri sebagai wakil ketua umum dan saya mohon diri untuk tidak lagi menjabat sebagai menteri," kata Edhy Prabowo.

Edhy Prabowo meyakini, proses pengunduran dirinya saat ini sedang diproses di dua tempat tersebut. Dia juga berjanji akan menghadapi seluruh proses hukum saat ini dengan jiwa besar.

"Dan saya yakin prosesnya sedang jalan dan saya akan hadapi dengan jiwa besar," katanya.

KPK menetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo (EP) sebagai tersangka dalam kasus suap izin ekspor benih lobster. 

Selain Edhy, penyidik juga menjerat enam orang lainnya. Mereka yakni Safri (SAF) selaku Stafsus Menteri KKP; Andreau Pribadi Misanta (APM) selaku Stafsus Menteri KKP; Siswadi (SWD) selaku Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK); Ainul Faqih (AF) selaku Staf istri Menteri KKP; dan Amiril Mukminin selaku swasta (AM). 

"Tujuh tersangka itu atas nama EP, SAF, APM, SWD, AF, dan AM, dan sebagai pemberi SYD," ucap Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango di kantornya, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (25/11/2020).