Pasar tenaga kerja telah mengalami disrupsi akibat berkembangnya digitalisasi. Pandemi COVID-19 semakin mempercepat akselerasi teknologi dalam pasar tenaga kerja.

World Economic Forum memperkirakan 85 juta pekerja akan tergantikan oleh mesin pada 2025.

"Namun, 97 juta lapangan kerja akan muncul dan lebih disesuaikan dengan pembagian kerja baru antara manusia, mesin, dan algoritma," tulis WEF dalam laporan yang berjudul ‘Future of Jobs Report 2020’ seperti dikutip Rabu (21/10).

Hitungan tersebut berdasarkan perkiraan penurunan pekerjaan yang sebenarnya tidak lagi dibutuhkan dari 15,4 persen menjadi 9 persen. Sedangkan pekerjaan baru naik dari 7,8 persen menjadi 13,5 persen.

Pekerjaan yang tidak akan lagi banyak dibutuhkan, antara lain pegawai penginput data, akuntan, pemasang reparasi elektronik dan telekomunikasi, perakit dan pekerja pabrik, serta sekretaris administrasi dan eksekutif. Kemudian, penjual toko, pemasar dan profesional pemasaran, manajer hubungan, pegawai pencatatan material dan penyumpanan stok, serta teller bank.

Sementara pekerjaan baru yaitu spesialis Al dan pembelajaran mesin, insinyur robotika, spesialis transformasi digital, pengembang perangkat lunak dan aplikasi, serta spesialis internet. Selanjutnya, insinyur fintech, analis data dan ilmuwan, manajer layanan dan administrasi bisnis, insinyur energi terbarukan, dan sepsialis pemasaran dan strategi digital.

Selain akibat digitalisasi, seperti dikutip Katadata, laporan tersebut menyampaikan bahwa virus corona menjadi pukulan kedua disrupsi tenaga kerja. Krisis telah mempertaruhkan jutaan pekerjaan, terutama pada sektor-sektor seperti pariwisata dan hiburan.

Berdasarkan laporan tersebut, perusahaan berharap dapat menstruktur ulang tenaga kerja sebagai respons terhadap teknologi baru. Tercatat, 55 persen perusahaan ingin mendorong transformasi SDM, sedangkan 43 persen perusahaan menyatakan bakal mengurangi tenaga kerja.

Kemudian 34 persen perusahaan ingin memperluas tenaga kerja sebagai hasil dari integrasi teknologi yang lebih dalam, sedangkan 44 persen perusahaan ingin memperluas penggunaan kontraktor untuk tugas-tugas pekerjaan khusus.

Peneliti Institute For Development of Economics and Finance Rizal Taufikurahman mengatakan disrupsi pekerjaan dari sumber daya manusia menjadi basis digital sudah terjadi sebelum pandemi. "Namun Covid-19 menjadi stimulator untuk memaksa mansuia merubah kebiasaan kerja," ujar Rizal kepada Katadata.co.id, Rabu (21/10).  Hal tersebut seiring dengan diberlakukannya pembatasan sosial.

Ia menyarankan agar SDM, infrastruktur, kebiasaan bekerja, kurikulum pendidikan, dan pola hidup masyarakat, serta berbagai interaksi sosial yang berbasis digitalisasi atau dikenal era industri 4.0 harus terus disiapkan. Roadmap dan rencana strategis menuju era digitalisasi 4.0 dan era social 5.0 menjadi keniscayaan ke depan.

Apalagi, SDM indonesia saat ini sedang memperoleh bonus demografi. Seiring dengan perubahan tersebut, mesti dipersiapkan dan disinergikan dengan berbagai momen digitalisasi pada perubahan global. Dengan demikian, siap tidak siap harus mempersiapkan.