Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin mengatakan, saat ini kelompok berpaham radikal sedang bergentayangan dengan mengatasnamakan penolakan Omnibus Law Undang-undang Cipta Kerja (UU Ciptake). Oleh sebab itu Ngabalin --begitu dia biasa disapa-- meminta waspada terhadap paham radikal yang bisa membuat Indonesia tercabik-cabik. 

Hal ini disampaikan Ngabalin lewat akun media sosial (medsos) Instagram-nya, @ngabalin. "Jum'at, penuh berkah. Belajar dari kegagalan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, maka jangan biarkan INDONESIA kita dihancurkan dan tercabik-cabik dengan paham RADIKAL ISIS, HIZBU TAHRIR aliran yang menolak PANCASILA & DEMOKRASI, KAUM TAKFIRI (yang mengkafir-kafirkan) KAUM INTOLERAN," kata Ngabalin di postingannya, Jumat (16/10/2020).

"Mereka semua sedang bergentayangan atas nama penolakan UU Cipta Kerja (Wajah Baru Regulasi Indonesia) Waspada jangan lengah! POLRI kita sedang bekerja, berikan penguatan dengan doa dari kita semua. #SampahDemokrasi," sambungnya.

Ngabalin juga meminta masyarakat tetap mencintai Indonesia dan mengingatkan untuk menjauhi kekerasan serta mewaspadai adu domba.

"Kau boleh menghujat, mencaci maki, ngebully bahkan menusuk jantungku kalipun, pasti aku rela untuk itu. Tapi tidak untuk INDONESIAKU. Saudaraku jangan berhenti mencintai negeri ini. +62 antikekerasan, anarkisme, intoleran, fitnah dan adu domba serta penyebaran kebencian atas nama kebenaran agama," kata Ngabalin di posting-an lainnya.

Sebelumnya, Ngabalin juga geram kepada para pendemo UU Ciptake yang meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) mundur. Ngabalin menyebut pendemo yang meminta Jokowi mundur dan para perusuh sebagai sampah demokrasi.

Awalnya Ngabalin mengatakan bahwa dalam mengukur kebenaran sebuah informasi tidak hanya cukup menggunakan mata dan telinga, tapi juga dengan hati. Dia kemudian menyinggung salah satu ayat dalam Al-Qur'an.

"Jadi, demonstrasi itu dilakukan, kalau teman-teman menyebutkan demonstrasi itu untuk menyampaikan pandangan dan pikiran seperti yang sekarang ini mereka teriakkan, penjelasan apa yang kurang terkait dengan UU Cipta Kerja?" kata Ngabalin, Selasa (13/10/2020).

Baru setelah itu Ngabalin menyebut pendemo yang meminta Jokowi mundur dan para perusuh sebagai sampah demokrasi. Dia heran dengan pendemo. Sebab, ujung-ujungnya malah meminta Jokowi mundur. Dia menduga ada yang menunggangi aksi buruh dan mahasiswa. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada Polri untuk mengusutnya.

"Terus demonstrasi apa yang mereka mau pakai? Berteriak atas nama kemerdekaan mengemukakan pendapat, Pasal 28 UUD 1945 atau mereka mau pakai UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan mengemukakan pendapat di muka umum, kemudian berteriak-teriak meminta presiden mundur, sampah namanya itu. Itu yang abang bilang sampah. Belum lagi para perusuh," tegas Ngabalin.

"Itu sampah demokrasi namanya. Tujuan apa mereka maksud? Berteriak atas nama UU Cipta Kerja, tapi ujung-ujungnya berteriak presiden mundur, minta presiden mundur. Lu siapa? Mulut-mulut sampah, mulut-mulut comberan. Lu siapa sih? Emang kau siapa, organisasi apa kau? Mau sok-sok minta presiden mundur," ujar Ngabalin.