Kabupaten Simalungun ini memiliki 32 kecamatan dengan luas 438.660 ha atau 6,12 % dari luas wilayah Provinsi Sumatra Utara. Kecamatan yang paling luas adalah Kecamatan Hatonduhan dengan luas 33.626 ha, sedangkan yang paling kecil adalah Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi dengan luas 3.897 ha. Keseluruhan kecamatan terdiri dari 386 desa/nagori dan 27 kelurahan (2018). 

Penduduk Kabupaten Simalungun umumnya adalah  Suku Batak Simalungun. Selain Batak Simalungun, banyak juga terdapat suku Batak Toba yang dekat kawasan Danau Toba, dan sebagian Batak Karo, Batak Pakpak, dan Batak Angkola. Suku Jawa merupakan suku pendatang terbanyak di Kabupaten Simalungun, dan ada pula Melayu, Sunda, Minangkabau dan Tionghoa. Agama mayoritas yang dianut adalah Islam sebesar 57,26% dari jumlah total penduduk. Jumlah total penduduk menurut BPS 2018 Total 863.693 jiwa dengan kepadatan 197,51 jiwa/km2. Persentase pemeluk agama sebagai berikut Islam (57,26%) Kristen (42,12%)— Protestan (36,97%), Katolik (5,15%), Buddha (0,24%), Lainnya (0,34%) dan Hindu (0,02%). 

Sistem mata pencaharian orang Simalungun yaitu bercocok tanam dengan padi dan jagung, karena padi adalah makanan pokok sehari-hari dan jagung adalah makanan tambahan jika hasil padi tidak mencukupi. Jual-beli diadakan dengan barter, bahasa yang dipakai adalah bahasa dialek. "Marga" memegang peranan penting dalam soal adat Simalungun. 

Jika dibandingkan dengan keadaan Simalungun dengan suku Batak yang lainnya sudah jauh berbeda. Pada masa sebelum Belanda masuk ke Simalungun, suku ini terbagi ke dalam 7 daerah yang terdiri dari 4 Kerajaan dan 3 Partuanan. Kerajaan tersebut adalah; Siantar, Panei, Dolok Silou dan Tanoh Djawa. Sedangkan Partuanan (dipimpin oleh seseorang yang bergelar "tuan") tersebut terdiri atas; Raya, Purba dan Silimakuta. Kerajaan-kerajaan tersebut memerintah secara swaparaja. Setelah Belanda datang maka ketiga Partuanan tersebut dijadikan sebagai Kerajaan yang berdiri sendiri secara sah dan dipersatukan dalam Onderafdeeling Simalungun.

Perekonomian Simalungun tahun 2019 jika dibandingkan tahun sebelumnya tumbuh sebesar 5,20 persen. Berdasarkan pendekatan produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Tranportasi dan Pergudangan sebesar 6,31 persen. Diikuti oleh Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 6,18 persen dan Lapangan Usaha Jasa Pendidikan sebesar 5,87 persen. Berdasarkan pendekatan pengeluaran, komponen Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba mencapai pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 10,81 persen, disusul komponen konsumsi Pembentukan Modal Tetap Bruto sebesar 5,76 persen dan komponen konsumsi Rumah Tangga sebesar 4,73 persen. Tiga lapangan usaha yang memberi peran dominan terhadap PDRB Simalungun pada tahun 2019 yaitu: pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 48,67 persen, perdagangan besar dan eceran dan reperasi mobil dan sepeda motor sebesar 16,79 persen serta industri pengolahan sebesar 12,00 persen. 

Sedangkan dari sisi pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PKRT) memberi kontribusi terbesar yaitu sebesar 57,49 persen, menyusul komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 26,25 persen dan net ekspor sebesar 7,49 persen. Secara nominal, PDRB Simalungun tahun 2019 atas dasar harga berlaku mencapai Rp.38.057,43 milyar dan PDRB atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp.27.348,70 milyar.

Peluang investasi sektor pertanian di Kabupaten Simalungun tidak semata hanya bidang hortikultura. Bidang-bidang lain masih banyak yang bisa digali untuk dijadikan sumber pendapatan daerah. Salah satunya, agribisnis peternakan. Sektor peternakan Kabupaten Simalungun sebenarnya sangat berpotensi besar mendorong tercapainya percepatan visi misi Dinas Peternakan Sumatera Utara (Sumut). Tapi sejauh ini peluang usaha sektor peternakan dalam mendorong percepatan pencapaian visi misi itu masih belum maksimal dijalankan