Nias Selatan sebelumnya adalah bagian dari Kabupaten Nias. Status otonom diperoleh pada 25 Februari 2003 dan diresmikan pada 28 Juli 2003. Kabupaten ini terdiri dari 104 gugusan pulau besar dan kecil. Letak pulau- pulau itu memanjang sejajar Pulau Sumatra. Panjang pulau-pulau itu lebih kurang 60 kilometer, lebar 40 kilometer. Dari seluruh gugusan pulau itu, ada empat pulau besar, yakni Pulau Tanah Bala (39,67 km²), Pulau Tanah Masa (32,16 km²), Pulau Tello (18 km²), dan Pulau Pini (24,36 km²). Tidak seluruh pulau berpenghuni. Masyarakat Nias Selatan tersebar di 21 pulau.Jumlah total penduduk Kabupaten Nias Selatan menurut BPS 2018 Total 317.207 jiwa dengan kepadatan 127,5 jiwa/km2. Persentase pemeluk agama sebagai berikut Islam (1,60%) Kristen Protestan, (81,64%) dan Katolik (16,76%). Suku Nias menerapkan sistem mado mengikuti garis ayah (patrilineal). Mado-mado umumnya berasal dari kampung-kampung pemukiman yang ada. 

Masyarakat Nias secara turun temurun menyebut dirinya sebagai Ono Niha (orang Nias), secara harfiah berarti anak manusia yang diyakini oleh sebagian ahli antropologi dan arkeologi sebagai salah satu suku yang berbahasa Austronesia sebagai salah satu leluhur Nusantara yang datang paling awal di dataran  Asia.  Dari  Sejumlah  bukti   peradaban  tertua,  masyarakat  di  Nias  sering dihubungkan dengan tradisi megalitik yang hingga kini masih terlihat keberadaannya di daerah tersebut tinggalan megalitik tersebar di berbagai desa di wilayah Pulau Nias. 

Kebanyakan tinggalan megalitik tersebut berada  di bukit-bukit dan pegunungan. Megalitik Nias berupa tinggalan  manusia masa lalu yang berasal dari batu itu sangat unik dan hampir tiap komplek situs megalitik tersebut memiliki  beragam jenis bentuk dan namanya seperti: menhir/behu, patung 8osa-osa, neogadi,owo-owo, daro-daro. Semua itu memiliki arti dan fungsi  masing-masing,  dan  kandungan  nilai  filosofisnya  masih dianut  bahkan  masih mempunyai relevansi dengan kehidupan masyarakat sampai kini. Patung-patung Nias yang dibuat pada masa itu memiliki makna sebagai simbol, sakti kekuatan, perwujudan dan perlindungan yang berfungsi sebagai kultus pemujaan leluhur dan ritus agar senantiasa diberi perlindungan, kesejahteraan, keharmonisan dan kesuburan. 

Perekonomian Nias Selatan tumbuh sebesar 4,60 persen pada tahun2017. Pertumbuhan ini mengalami percepatan dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan pendekatan produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha transportasi dan pergudangan sebesar 8,75 persen. Diikuti oleh Lapangan Usaha pengadaan listrik dan gas sebesar 8,27 persen dan Lapangan pertambangan dan penggalian sebesar 6,95 persen. Berdasarkan pendekatan pengeluaran, komponen impor mencapai pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 10,57 persen, disusul komponen pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 8,07 persen dan komponen pembentukan modal tetap bruto sebesar 7,58 persen,

Data perkebunan dan lahan menunjukkan luas panen padi sawah: 23.919,8 ha dan padi ladang: 6.486 ha; Jagung (1.551,8 ha); Ubi kayu (1.635 ha); ubi jalar (766,7 ha); kedele (999,8 ha); Kacang hijau (149 ha); dan Talas (133,8 ha). Buah-buahan dengan produksi 3.933,5 ton (mangga, jeruk, durian, jambu biji, jambu air, alpukat, manggis, duku/langsat, rambutan, pisang, pepaya, belimbing dan nangka). 1.289 ha luas panen sayuran dengan produksi 16.303 ton (bawang daun, kacang panjang, cabai besar, terung, ketimun, kangkung, bayam, dll).

Pilkada Kabupaten Nias Selatan sendiri pada tahun 2020 ini diikuti oleh dua pasangan calon yakni pasangan Hilarius Duha dengan Firman yang diusung dengan 9 partai politik dengan 26 kursi DPRD dan Paslon Idealisman Dachi dengan Sozanolo Ndruru, diusung 3 partai politik yakni Golkar, Demokrat dan PSI dengan 9 kursi DPRD. Dipastikan sebanyak kurang lebih 191.279 DPT, sedangkan jumlah TPS sendiri diperkirakan mencapai 338 TPS yang tersebar di 35 Kecamatan. Tertanggal 31 Desember 2019 dalam situs elhkpn.kpk.go.id, dapat diketahui bahwa Hilarius Duha  yang merupakan Bupati petahana Nias Selatan melaporkan harta kekayaannya sejumlah  Rp.3.989.739.681.